Anak menutup mulut ketika melihat sayur, tetapi dengan cepat membuka mulut saat makanan kesukaannya datang. Buah yang kemarin dimakan dengan lahap, hari ini justru ditolak. Situasi seperti ini tentu tidak asing bagi banyak orang tua.
Perilaku pilih-pilih makanan atau picky eating cukup sering dijumpai pada masa kanak-kanak awal, khususnya pada balita (usia sekitar 1-5 tahun). Anak dapat memiliki preferensi kuat terhadap makanan tertentu, enggan mencoba makanan baru, atau menolak makanan yang sebenarnya pernah dikenalnya.1
Namun, picky eating bukan berarti semua bentuk “susah makan” dianggap normal. Selama anak memperoleh makanan yang cukup dan beragam serta tumbuh dengan baik, orang tua umumnya dapat melakukan pendekatan secara bertahap. Sebaliknya, bila pilihan makanan semakin terbatas, berat badan sulit naik, atau muncul kesulitan mengunyah dan menelan, diperlukan perhatian lebih lanjut.
Tujuan pemberian makan bukan sekadar membuat anak “menghabiskan sayur hari ini”, melainkan membantu anak mengenal berbagai rasa, aroma, warna, dan tekstur sebagai bagian dari kebiasaan makan sehat.
“Belajar makan adalah sebuah proses. Anak tidak hanya belajar mengenal rasa, tetapi juga belajar merasa aman dan nyaman bersama makanan.”
Yang Perlu Anda Tahu
|
1. Mengapa Balita Menolak Sayur dan Buah?
Penolakan terhadap sayur atau buah tidak selalu berarti anak benar-benar tidak menyukainya. Beberapa hal dapat memengaruhi perilaku tersebut.
Makanan terasa asing
Sebagian anak cenderung berhati-hati atau menolak makanan yang belum dikenalnya. Kondisi ini disebut food neophobia dan dapat muncul sebagai bagian dari perkembangan anak.2,3
Jadi, ketika anak menolak brokoli pada kesempatan pertama, bukan berarti ia akan selamanya tidak menyukai brokoli.
Rasa, aroma, dan tekstur berbeda
Sayur dan buah mempunyai karakter yang beragam: lunak, berserat, renyah, berair, asam, bahkan sedikit pahit. Anak dapat membutuhkan waktu untuk merasa nyaman dengan berbagai sensasi tersebut.2
Anak mulai menunjukkan kemandirian
Seiring bertambahnya usia, anak mulai mampu mengatakan “mau” atau “tidak mau”. Orang tua dapat memberikan pilihan sederhana, misalnya:
“Adik mau pepaya atau pisang?”
Anak mendapat kesempatan memilih, tetapi orang tua tetap menentukan pilihan makanan yang tersedia.3
Suasana makan kurang menyenangkan
Makan sambil dimarahi, dipaksa, dikejar-kejar, atau terus dibujuk dapat membuat waktu makan terasa menegangkan. Sebaliknya, suasana yang tenang membantu anak membangun pengalaman positif terhadap makanan.3
Terlalu kenyang sebelum waktu makan
Camilan, susu, atau minuman berkalori yang diberikan terlalu dekat dengan waktu makan dapat mengurangi rasa lapar. Karena itu, keteraturan jadwal makan dan makanan selingan penting untuk dibangun.4
2. Apakah Picky Eating Selalu Berbahaya?
Tidak selalu.
Banyak anak yang memilih-milih makanan tetap tumbuh dengan baik. Karena itu, kesehatan anak perlu dilihat dari keseluruhan pola makan dan pertumbuhannya, bukan hanya dari satu jenis makanan yang ditolak.
Namun, bila pilihan makanan sangat terbatas dan berlangsung lama, asupan beberapa zat gizi dapat menjadi lebih rendah. Penelitian pada anak picky eater menemukan perbedaan asupan beberapa mikronutrien, antara lain karoten (banyak terdapat pada sayur dan buah berwarna), zat besi, dan seng (keduanya penting untuk imunitas dan tumbuh kembang), dibandingkan anak yang tidak picky eating.5
Asupan buah dan sayur yang rendah juga dapat berkaitan dengan rendahnya konsumsi serat. Pada anak prasekolah, picky eating ditemukan berhubungan dengan asupan serat yang lebih rendah dan kecenderungan feses yang lebih keras.6
Jadi, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “Apakah anak saya mau makan sayur?”, melainkan “Apakah makanannya cukup beragam, kebutuhan gizinya terpenuhi, dan pertumbuhannya berjalan baik?”
3. Jangan Menyerah Setelah Sekali Ditolak
Salah satu kesimpulan yang sering terlalu cepat adalah:
“Dia memang tidak suka sayur.”
Padahal makanan tersebut baru ditawarkan satu atau dua kali.
Sebagian anak membutuhkan paparan berulang sebelum menerima makanan baru. IDAI menyebut makanan baru dapat diperkenalkan kembali sekitar 10-15 kali, sedangkan penelitian menunjukkan bahwa repeated taste exposure atau paparan rasa berulang dapat meningkatkan penerimaan sayuran pada anak prasekolah.3,7
Paparan tidak selalu berarti anak harus langsung memakannya. Prosesnya dapat dimulai dari:
melihat → menyentuh → mencium → mencicipi → menggigit sedikit → perlahan mulai memakannya.
Satu suapan yang tidak habis bukan berarti proses belajar makan telah gagal.
4. Delapan Cara yang Bisa Dicoba
1. Tawarkan kembali tanpa memaksa
Bila hari ini ditolak, tawarkan kembali pada kesempatan lain dalam porsi kecil.
Hindari label seperti “Kamu memang tidak suka wortel.” Lebih baik gunakan kalimat netral: “Hari ini ada wortel juga. Kalau mau, boleh dicoba.”
2. Mulai dari porsi kecil
Sepiring penuh sayur dapat terasa berlebihan bagi anak. Mulailah dari satu atau dua potong kecil. Keberhasilan awal tidak harus berarti seluruh porsi dihabiskan.
3. Libatkan anak
Sesuai usia dan kemampuannya, anak dapat diajak memilih buah, mencuci sayuran, memasukkan bahan ke wadah, atau menata makanan. Tujuannya adalah membuat makanan terasa lebih familiar dan menarik.
4. Sajikan menarik, tetapi tetap dikenali
Sayur dan buah dapat disajikan dengan warna atau bentuk yang menarik. Sayur cincang juga dapat ditambahkan ke telur, perkedel, sup, atau makanan rumahan lain sebagai jembatan awal.
Namun, jangan selalu menyembunyikannya. Anak tetap perlu mengenali bentuk asli sayur agar memahami bahwa sayur adalah bagian normal dari makanan sehari-hari.7
5. Dampingi dengan makanan yang sudah disukai
Tempatkan makanan baru bersama makanan yang sudah familiar. Bila anak menyukai nasi dan ikan, misalnya, tambahkan sedikit sayur lunak di sisi piring tanpa menuntutnya langsung menghabiskan semuanya.
6. Jadilah contoh
Anak belajar dari apa yang dilihat. Makan bersama dan memperlihatkan bahwa anggota keluarga menikmati buah dan sayur dapat membantu makanan tersebut terasa lebih familiar.3
7. Bangun jadwal makan yang teratur
Makan utama dan makanan selingan sebaiknya diberikan pada waktu yang relatif teratur. Hindari mengemil terus-menerus sepanjang hari atau selalu mengganti makanan yang ditolak dengan susu dan minuman berkalori.4
8. Hindari tekanan dan hukuman
Memaksa anak membuka mulut, mengejar sambil menyuapi, mengancam, atau menjadikan makanan sebagai hukuman bukan pendekatan yang baik untuk jangka panjang.
IDAI menganjurkan suasana makan yang menyenangkan, tanpa paksaan, serta menawarkan kembali makanan secara netral ketika anak menolaknya.4
5. Aturan Makan Juga Penting
Jenis makanan bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan. Cara dan suasana makan juga berperan.
Beberapa prinsip sederhana dapat diterapkan:4
Buat jadwal makan utama dan selingan secara teratur.
Berikan porsi kecil terlebih dahulu.
Usahakan waktu makan sekitar 30 menit dan tidak berkepanjangan.
Hindari televisi, telepon genggam, mainan, atau distraksi lain.
Beri kesempatan anak belajar makan sendiri sesuai kemampuan.
Jangan memaksa ketika anak menolak.
Hindari menjadikan makanan tertentu sebagai hadiah.
Tujuannya bukan membuat waktu makan menjadi kaku, melainkan membantu anak mengenali pola lapar-makan-kenyang secara lebih teratur.
6. Contoh Kombinasi Menu Balita
Menu sehat tidak selalu harus mahal atau rumit. Bahan dapat disesuaikan dengan ketersediaan di rumah dan kebiasaan keluarga.
Waktu | Contoh Menu | Sayur/Buah yang Dikenalkan |
|---|---|---|
Sarapan | Telur dadar + roti | Bayam cincang dalam telur |
Camilan pagi | Yogurt plain + pisang matang | Pisang |
Makan siang | Nasi + ikan/ayam + sayur bening | Wortel dan buncis lunak |
Camilan sore | Buah potong sesuai kemampuan anak | Pepaya atau semangka |
Makan malam | Nasi/pasta + telur, ikan, atau daging | Brokoli lunak dan tomat |
Contoh ini bukan menu wajib. Pilihan makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan gizi, kemampuan anak mengunyah dan menelan, serta kebiasaan keluarga.
Sebagai gambaran kasar untuk porsi awal, orang tua dapat memulai dari sekitar satu sendok makan per tahun usia anak untuk setiap jenis sayur atau buah (misalnya anak usia 2 tahun kurang lebih 2 sendok makan), lalu disesuaikan secara bertahap dengan nafsu makan dan responsnya.
Di Maluku, ikan yang mudah ditemukan dapat menjadi salah satu sumber protein hewani dalam menu keluarga. Sayur dan buah melengkapi pola makan yang beragam, bukan menggantikan sumber energi dan protein yang juga dibutuhkan anak.
7. Jangan Lupakan Keamanan Makanan
Makanan bergizi tetap harus diberikan dengan cara yang aman.
Ukuran, bentuk, dan tekstur perlu disesuaikan dengan kemampuan anak mengunyah dan menelan. Makanan keras, bulat, licin, atau sulit dikunyah dapat meningkatkan risiko tersedak.8
Anggur utuh, kacang utuh, wortel mentah yang keras, serta potongan apel keras berukuran besar perlu mendapat perhatian khusus.
Makanan dapat dimasak hingga lebih lunak atau dipotong sesuai kemampuan anak. Saat makan, anak sebaiknya duduk dengan baik, tidak berjalan atau berlari, dan tetap dalam pengawasan orang dewasa.8
8. Variasi Lebih Penting daripada Satu Makanan
Tidak ada satu jenis makanan yang mampu menyediakan seluruh zat gizi yang dibutuhkan anak.
Balita membutuhkan sumber karbohidrat, protein termasuk protein hewani, lemak, sayur, buah, serta berbagai vitamin dan mineral untuk mendukung tumbuh kembangnya.
Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya mengonsumsi aneka ragam pangan.9
Sejalan dengan itu, memberi makan bukan sekadar soal kenyang, melainkan tentang keragaman: orang tua sedang membantu anak membangun pola makan yang akan terbawa hingga usia selanjutnya.
Kesehatan anak perlu dilihat secara utuh: apa yang dimakan, seberapa beragam makanannya, bagaimana pertumbuhannya, dan bagaimana pengalaman anak saat makan.
9. Kapan Harus Berkonsultasi?
Tidak semua anak yang menolak sayur memerlukan pemeriksaan dokter atau ahli gizi.
Namun, konsultasi sebaiknya dilakukan bila:
1. Makanan yang dapat diterima semakin sedikit atau sangat terbatas.
2. Anak menolak seluruh kelompok makanan tertentu.
3. Berat badan sulit bertambah atau justru turun.
4. Pertumbuhan tampak terganggu.
5. Anak sering batuk atau tersedak saat makan.
6. Terdapat kesulitan mengunyah atau menelan.
7. Anak sering muntah atau tampak nyeri saat makan.
8. Anak sangat sensitif terhadap tekstur, aroma, atau bentuk makanan.
9. Waktu makan hampir selalu menjadi konflik berat.4,10
Kesulitan makan mempunyai spektrum yang luas. Selain faktor perilaku, sebagian anak dapat mengalami masalah medis, oral-motor, gangguan menelan, atau kondisi lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.4,10
Konsultasi dapat dilakukan kepada dokter, dokter spesialis anak, serta ahli gizi/dietisien sesuai masalah yang ditemukan.
10. Kesimpulan
Picky eating pada masa balita sering menjadi bagian dari proses anak mengenal makanan dan membangun kemandirian.
Orang tua tidak perlu memenangkan setiap waktu makan.
Yang lebih penting adalah konsistensi: tawarkan makanan sehat berulang kali, mulai dari porsi kecil, bangun jadwal makan, berikan contoh, hindari paksaan, dan pantau pertumbuhan serta keseluruhan pola makan anak.
Perubahan mungkin tidak terjadi dalam satu hari. Namun, ketika hari ini anak baru berani menyentuh sayur yang biasanya ditolak, besok mungkin ia mulai mencicipinya.
“Satu suapan hari ini mungkin belum berhasil. Namun setiap pengalaman makan yang menyenangkan adalah satu langkah kecil menuju kebiasaan makan yang lebih sehat.”
Mari dampingi anak mengenal makanan sehat sejak dini. Sebab kebiasaan makan yang baik tidak dibangun dalam sehari, tetapi tumbuh dari pengalaman kecil yang dilakukan berulang kali – dengan kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Bila keraguan tetap muncul, jangan ragu berdiskusi dengan dokter anak atau ahli gizi terdekat untuk memastikan tumbuh kembang si kecil tetap pada jalurnya.
Daftar Pustaka
1. Taylor CM, Wernimont SM, Northstone K, Emmett PM. Picky/fussy eating in children: review of definitions, assessment, prevalence and dietary intakes. Appetite. 2015;95:349-59. doi:10.1016/j.appet.2015.07.026.
2. Dovey TM, Staples PA, Gibson EL, Halford JCG. Food neophobia and 'picky/fussy' eating in children: a review. Appetite. 2008;50(2-3):181-93. doi:10.1016/j.appet.2007.09.009.
3. Hanindita MH, Widjaja NA, Hidayati SN, Irawan R. Pilih-pilih makanan [Internet]. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015 Aug 19 [cited 2026 Sep 18]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pilih-pilih-makanan
4. Galuh M. Sulit makan pada bayi dan anak [Internet]. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2016 Nov 21 [cited 2026 Sep 18]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak
5. Taylor CM, Northstone K, Wernimont SM, Emmett PM. Macro- and micronutrient intakes in picky eaters: a cause for concern? Am J Clin Nutr. 2016;104(6):1647-56. doi:10.3945/ajcn.116.137356.
6. Taylor CM, Northstone K, Wernimont SM, Emmett PM. Picky eating in preschool children: associations with dietary fibre intakes and stool hardness. Appetite. 2016;100:263-71. doi:10.1016/j.appet.2016.02.021.
7. Nekitsing C, Blundell-Birtill P, Cockroft JE, Hetherington MM. Systematic review and meta-analysis of strategies to increase vegetable consumption in preschool children aged 2-5 years. Appetite. 2018;127:138-54. doi:10.1016/j.appet.2018.04.019.
8. Centers for Disease Control and Prevention. Choking hazards [Internet]. Atlanta: Centers for Disease Control and Prevention; 2026 Mar 11 [cited 2026 Sep 18]. Available from: https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/choking-hazards.html
9. Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1110. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2014.
10. Kerzner B, Milano K, MacLean WC Jr, Berall G, Stuart S, Chatoor I. A practical approach to classifying and managing feeding difficulties. Pediatrics. 2015;135(2):344-53. doi:10.1542/peds.2014-1630.
