hero-header

RSUD dr. M. Haulussy Ambon

Pola Makan dan Tren Peningkatan Diabetes Mellitus & Gagal Ginjal pada Remaja

Pendahuluan

Selama ini, diabetes mellitus (DM) dan gagal ginjal kronis (GGK) dikenal sebagai penyakit yang lazim menyerang orang dewasa dan lansia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tren mengkhawatirkan mulai muncul: kedua penyakit ini kini semakin sering ditemukan pada anak-anak dan remaja Indonesia.

Perubahan gaya hidup — terutama pola makan yang tidak sehat — menjadi faktor utama di balik fenomena ini. Sebagai masyarakat, kita perlu memahami hubungan antara kebiasaan makan sehari-hari dengan risiko penyakit jangka panjang, agar kita dapat melindungi generasi muda sejak dini.

 

Data dan Fakta yang Perlu Kita Ketahui

Berikut adalah gambaran kondisi terkini berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):

 

70%

Peningkatan kasus diabetes anak (2010–2023)

1 dari 5

Remaja usia 12–18 tahun tunjukkan tanda awal gangguan ginjal

1.948

Kasus diabetes anak tercatat di Indonesia (2025)

 

Apa artinya data ini?

Kasus diabetes pada anak melonjak hingga 70 kali lipat dalam kurun 10–13 tahun (2010–2023). Yang lebih mengkhawatirkan, tenaga kesehatan kini mulai menemukan pasien usia muda yang sudah menjalani cuci darah (hemodialisis) — sesuatu yang sebelumnya sangat jarang terjadi pada kelompok usia ini. Ini bukan sekadar statistik; ini adalah sinyal serius bahwa pola hidup generasi muda kita sedang berubah ke arah yang tidak sehat.

 

Bagaimana Pola Makan Berperan?

Perubahan pola makan remaja dalam satu dekade terakhir menjadi salah satu penyebab utama lonjakan kasus ini. Ada tiga pola konsumsi yang paling berisiko:

 

1. Konsumsi Gula Berlebihan

Minuman kekinian — boba, kopi susu, minuman bersoda, dan berbagai minuman kemasan — telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup remaja saat ini. Kandungan gula dalam satu gelas minuman tersebut seringkali melebihi batas konsumsi gula harian yang dianjurkan (50 gram/hari untuk orang dewasa). Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang meningkatkan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan.

2. Dominasi Makanan Ultra-Proses

Fast food, snack kemasan, mi instan, dan makanan cepat saji tinggi gula, garam, serta lemak jenuh kini mendominasi asupan remaja. Pola ini berkontribusi langsung pada:

  • Obesitas dan kelebihan berat badan

  • Resistensi insulin — kondisi awal sebelum diabetes berkembang

  • Tekanan darah tinggi — salah satu faktor risiko utama gagal ginjal

 

3. Kurangnya Makanan Bergizi

Di sisi lain, asupan sayur, buah, serat, dan protein berkualitas masih sangat rendah di kalangan remaja. Kekurangan nutrisi esensial ini berdampak pada penurunan daya tahan tubuh, gangguan metabolisme, dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit kronis.

 

 

 

Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Gagal Ginjal?

Diabetes bukan sekadar masalah gula darah tinggi. Ketika kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka panjang, dampaknya menyebar ke seluruh sistem organ — termasuk ginjal.

 

Proses Kerusakan Ginjal Akibat Diabetes:

  • Gula darah tinggi secara perlahan merusak pembuluh darah kecil (kapiler) yang ada di dalam ginjal.

  • Ginjal terpaksa bekerja lebih keras untuk menyaring darah yang mengandung kadar gula tinggi.

  • Kerusakan yang berlangsung bertahun-tahun akhirnya menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen (gagal ginjal kronis).

  • Pada stadium akhir, pasien memerlukan terapi pengganti ginjal berupa cuci darah (hemodialisis) atau transplantasi ginjal.

Secara global, diabetes mellitus adalah penyebab utama gagal ginjal kronis. Semakin muda usia saat diabetes berkembang, semakin panjang paparan kerusakan yang akan dialami ginjal.

 

Mengapa Remaja Saat Ini Lebih Rentan?

Beberapa faktor yang secara khusus meningkatkan risiko pada kelompok usia remaja:

 

  • Waktu yang dihabiskan di depan layar (gadget, media sosial, game online) mengurangi aktivitas fisik secara signifikan.

  • Kebiasaan minum minuman manis yang dimulai sejak masa kanak-kanak membangun toleransi insulin yang rendah sejak awal.

  • Remaja sering membuat keputusan makanan sendiri, tanpa panduan gizi yang memadai.

  • Pengetahuan tentang kandungan nutrisi makanan masih sangat rendah di kalangan remaja dan keluarga.

  • Kemudahan akses terhadap makanan tidak sehat (warung, aplikasi pesan-antar) dibandingkan makanan bergizi.

 

 

 

Langkah Pencegahan: Peran Keluarga Sangat Menentukan

Kabar baiknya: kondisi ini dapat dicegah. Pencegahan paling efektif bukan dimulai dari klinik atau rumah sakit — melainkan dari dapur dan meja makan keluarga. Berikut adalah lima langkah konkret yang dapat diterapkan mulai hari ini:

 

#

LangkahPenjelasan Praktis

1

Batasi Gula HarianKurangi konsumsi minuman manis dan kemasan. Biasakan minum air putih minimal 8 gelas per hari.

2

Terapkan Gizi SeimbangIsi setengah piring dengan sayur & buah, seperempat protein (ikan, telur, tahu/tempe), dan seperempat karbohidrat.

3

Kurangi Makanan Ultra-ProsesBatasi fast food, snack kemasan, dan makanan tinggi gula, garam, serta lemak jenuh.

4

Biasakan Makan di RumahMakanan rumahan lebih terkontrol secara gizi, lebih higienis, dan lebih hemat.

5

Tingkatkan Aktivitas FisikDorong anak aktif bergerak minimal 30–60 menit setiap hari: bersepeda, olahraga ringan, atau bermain di luar ruangan.

 

Peran Orang Tua: Kunci Perubahan

Orang tua memegang peran paling strategis dalam membentuk kebiasaan makan anak. Rumah adalah lingkungan pertama dan paling berpengaruh dalam menentukan pola konsumsi remaja.

 

Tiga peran utama orang tua:

  • Penyedia makanan bergizi: Apa yang tersedia di kulkas dan meja makan akan menentukan apa yang dikonsumsi anak.

  • Teladan kebiasaan makan: Anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang tua. Pola makan sehat orang tua adalah investasi kesehatan keluarga.

  • Pemberi edukasi gizi sejak dini: Mengajarkan anak membaca label makanan, memilih jajanan sehat, dan memahami manfaat nutrisi adalah bekal yang berharga.

 

 

 

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter atau tenaga kesehatan jika remaja menunjukkan tanda-tanda berikut:

 

  • Sering merasa sangat haus dan sering buang air kecil, terutama di malam hari

  • Mudah lelah tanpa sebab yang jelas, meskipun sudah cukup istirahat

  • Penurunan berat badan drastis tanpa program diet

  • Pandangan kabur atau sering sakit kepala

  • Luka yang lama sembuh

  • Bengkak pada kaki atau sekitar mata (dapat menjadi tanda gangguan ginjal)

 

Deteksi dini melalui pemeriksaan gula darah dan fungsi ginjal secara berkala sangat dianjurkan, terutama bagi remaja dengan riwayat keluarga diabetes atau obesitas.

 

 

 

Penutup

Diabetes mellitus dan gagal ginjal kronis pada remaja bukan terjadi secara tiba-tiba. Keduanya adalah konsekuensi dari akumulasi kebiasaan makan tidak sehat yang berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisi ini dapat dicegah — dan pencegahan terbaik dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari di rumah.

Dengan pengelolaan pola makan yang lebih sehat sejak dini, kita dapat menurunkan risiko penyakit kronis, meningkatkan kualitas hidup anak-anak kita, dan mewariskan generasi yang lebih sehat kepada masa depan.

 

“Apa yang anak makan hari ini, menentukan kesehatan mereka di masa depan. Yang kita lihat hari ini sebagai diabetes dan gagal ginjal, sesungguhnya dimulai dari kebiasaan makan bertahun-tahun sebelumnya.”

— Inggried H. Wattimury, S.Gz

 

 

Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi kesehatan masyarakat.

Untuk konsultasi gizi dan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut, silakan kunjungi Poliklinik Gizi atau Poli Penyakit Dalam rumah sakit kami.

All rights Reserved © RSUD dr. M. Haulussy Ambon, 2024

Made with   by  RSUD dr. M. Haulussy Ambon