hero-header

RSUD dr. M. Haulussy Ambon

Krisis Darah Tinggi Bisa Bikin Pingsan? Kenali Ensefalopati Hipertensif

 

1. Pembuka: Ketika Darah Tinggi Mengganggu Otak

Banyak orang mengenal hipertensi sebagai “darah tinggi” yang sering dikaitkan dengan pusing, tegang di leher, rasa berat di kepala, atau badan terasa tidak nyaman. Namun, hipertensi sesungguhnya dapat berjalan tanpa keluhan sama sekali. Diam-diam ia menekan pembuluh darah, membebani jantung, mengganggu ginjal, merusak retina mata, dan dalam keadaan tertentu dapat mengancam otak.

Salah satu keadaan yang perlu diwaspadai adalah ketika tekanan darah tinggi disertai perubahan perilaku, kebingungan, mengantuk berat, kejang, gangguan penglihatan, atau penurunan kesadaran. Dalam dunia medis, kondisi ini dapat berkaitan dengan ensefalopati hipertensif, yaitu gangguan fungsi otak akibat tekanan darah yang sangat tinggi.

Kondisi ini bukan sekadar “pusing karena darah tinggi”. Ini adalah tanda bahaya. Ketika hipertensi sudah mengganggu kesadaran, kita tidak lagi berbicara tentang keluhan ringan, tetapi tentang kemungkinan kegawatdaruratan yang membutuhkan pertolongan medis segera.

“Hipertensi sering tidak bersuara, tetapi otak dapat menjadi tempat pertama yang berteriak ketika tekanan sudah melampaui batas.”

2. Mengenal Hipertensi Secara Singkat

Hipertensi adalah keadaan meningkatnya tekanan darah. Dalam Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Hipertensi Dewasa Kementerian Kesehatan RI Tahun 2026, hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg, berdasarkan pengukuran yang benar. PNPK tersebut juga menegaskan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko penting untuk stroke dan penyakit kardiovaskular.

Di Indonesia, hipertensi masih menjadi masalah besar. Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 yang dikutip dalam PNPK Hipertensi Dewasa 2026 menunjukkan prevalensi hipertensi dewasa berdasarkan pengukuran sebesar 30,8%. Artinya, sekitar tiga dari sepuluh orang dewasa memiliki tekanan darah tinggi berdasarkan hasil pengukuran.

Yang membuat hipertensi berbahaya bukan hanya tingginya angka tekanan darah, tetapi sifatnya yang sering diam. Banyak pasien merasa baik-baik saja, lalu berhenti kontrol, tidak minum obat teratur, atau baru datang ke fasilitas kesehatan ketika komplikasi sudah terjadi.

3. Apa Itu Ensefalopati Hipertensif?

Ensefalopati hipertensif adalah gangguan fungsi otak akibat peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi, terutama bila kenaikan tersebut terjadi mendadak atau melampaui kemampuan pembuluh darah otak untuk beradaptasi. Dalam PNPK Hipertensi Dewasa 2026, istilah yang digunakan adalah “ensefalopati hipertensi”. Dalam tulisan edukasi ini, istilah “ensefalopati hipertensif” digunakan sebagai padanan populer-ilmiah dari hypertensive encephalopathy.

Kondisi ini termasuk dalam kelompok hipertensi emergensi, yaitu tekanan darah tinggi berat yang disertai kerusakan organ target akut. PNPK Hipertensi Dewasa 2026 mendefinisikan hipertensi emergensi sebagai hipertensi derajat 3, yaitu tekanan darah sistolik ≥180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥110 mmHg, disertai HMOD akut atau hypertension-mediated organ damage yaitu kerusakan organ akut yang terjadi akibat tekanan darah sangat tinggi. Organ target yang dapat terdampak antara lain otak, jantung, ginjal, retina mata, dan pembuluh darah besar.

Pada ensefalopati hipertensif, organ yang terutama terganggu adalah otak. Pasien dapat mengalami sakit kepala berat, bingung, mengantuk, gelisah, gangguan penglihatan, kejang, sampai penurunan kesadaran. Referensi neurologis juga menjelaskan bahwa hypertensive encephalopathy dapat muncul dengan sakit kepala berat, perubahan status mental, gangguan penglihatan, dan kejang; bila tidak ditangani segera, kondisi ini dapat memburuk.

4. Mengapa Tekanan Darah Tinggi Bisa Menurunkan Kesadaran?

Otak adalah organ yang sangat peka. Ia membutuhkan aliran darah yang stabil: cukup untuk membawa oksigen dan nutrisi, tetapi tidak berlebihan sampai merusak pembuluh halus di dalamnya.

Dalam keadaan normal, pembuluh darah otak memiliki kemampuan yang disebut autoregulasi serebral. Mekanisme ini menjaga agar aliran darah ke otak tetap stabil meskipun tekanan darah naik atau turun dalam batas tertentu. Namun, ketika tekanan darah meningkat terlalu tinggi atau terlalu cepat, mekanisme perlindungan ini dapat kewalahan.

Akibatnya, dinding pembuluh darah otak dapat terganggu. Sawar darah-otak (bisa dianalogikan sebagai "benteng atau saringan pelindung otak”) atau blood-brain barrier dapat mengalami disfungsi, sehingga cairan lebih mudah keluar ke jaringan otak. Kondisi ini dapat menyebabkan edema atau pembengkakan jaringan otak, yang kemudian mengganggu fungsi otak. Gangguan inilah yang dapat tampak sebagai bingung, mengantuk, kejang, gangguan penglihatan, sampai penurunan kesadaran. Mekanisme ini sejalan dengan penjelasan neurologis tentang ensefalopati hipertensif yang melibatkan gangguan autoregulasi, kerusakan sawar darah-otak, dan edema otak.

Otak membutuhkan tekanan yang cukup untuk hidup, tetapi tekanan yang terlalu tinggi dapat berubah menjadi ancaman. Di sinilah hipertensi tidak lagi sekadar angka di tensimeter, melainkan menjadi tanda bahwa sistem saraf sedang berada dalam bahaya.

5. Gejala yang Harus Diwaspadai

Gejala ensefalopati hipertensif dapat bervariasi. Tidak semua pasien datang dengan keluhan yang sama. Ada yang awalnya hanya sakit kepala berat, ada yang tampak bingung, ada yang mengalami kejang, dan ada pula yang datang dalam keadaan kesadaran menurun.

Beberapa tanda bahaya yang perlu dikenali:

Gejala

Makna Kewaspadaan

Sakit kepala berat, terutama bila mendadak, tidak biasa, atau disertai muntah/progresifDapat menjadi tanda gangguan pembuluh darah otak atau krisis hipertensi
Bingung, gelisah, atau tampak tidak nyambungMengarah pada gangguan fungsi otak
Mengantuk berat atau sulit dibangunkanTanda penurunan kesadaran
KejangTanda bahaya neurologis yang membutuhkan pertolongan segera
Gangguan penglihatan atau penglihatan kabur mendadakDapat berkaitan dengan gangguan retina atau otak
Mual muntah hebatDapat menyertai gangguan neurologis akut
Bicara pelo, wajah mencong, kelemahan tangan atau kakiHarus dicurigai sebagai stroke sampai terbukti bukan

PNPK Hipertensi Dewasa 2026 menyebut bahwa gejala hipertensi emergensi bergantung pada organ yang terdampak, antara lain sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri dada, sesak napas, pusing, atau defisit neurologis. Untuk ensefalopati hipertensi, gejala klinis dapat berupa somnolen, letargi, kejang tonik-klonik, kebutaan kortikal, hingga gangguan kesadaran.

6. Kapan Harus Segera ke IGD?

Pasien dengan tekanan darah tinggi harus segera dibawa ke IGD bila disertai salah satu dari tanda berikut:

  • penurunan kesadaran;

  • bingung mendadak;

  • kejang;

  • sakit kepala sangat berat;

  • gangguan penglihatan mendadak;

  • kelemahan wajah, tangan, atau kaki;

  • bicara pelo;

  • nyeri dada;

  • sesak napas;

  • muntah hebat;

  • tekanan darah sangat tinggi yang menetap, terutama bila disertai keluhan berat.

Jangan menunggu pasien “tidur dulu”, “istirahat dulu”, atau “nanti juga turun sendiri” bila tekanan darah tinggi sudah disertai bingung, kejang, gangguan neurologis, atau kesadaran menurun. Kondisi ini harus dianggap sebagai kegawatdaruratan sampai terbukti sebaliknya.

Dalam konteks ini, keluarga memiliki peran besar. Keputusan untuk membawa pasien ke rumah sakit sering dimulai dari rumah. Semakin cepat tanda bahaya dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan pertolongan sebelum kerusakan otak menjadi lebih berat.

7. Hipertensi Urgensi dan Hipertensi Emergensi

Tidak semua tekanan darah tinggi memiliki tingkat bahaya yang sama. Secara klinis, tenaga kesehatan perlu membedakan antara hipertensi urgensi dan hipertensi emergensi.

Hipertensi urgensi adalah tekanan darah tinggi berat tanpa bukti klinis kerusakan organ target akut. Dalam keadaan ini, pasien biasanya tidak memerlukan rawat inap dan dapat ditangani dengan obat oral serta pemantauan sesuai penilaian dokter.

Hipertensi emergensi adalah tekanan darah tinggi berat yang sudah disertai kerusakan organ target akut. Bila organ yang terganggu adalah otak, manifestasinya dapat berupa kebingungan, kejang, gangguan penglihatan, defisit neurologis, atau penurunan kesadaran. PNPK Hipertensi Dewasa 2026 menekankan bahwa hipertensi emergensi sering mengancam jiwa, memerlukan penanganan segera dan seksama, serta sering membutuhkan obat intravena dengan pemantauan ketat.

Perbedaan ini penting untuk dipahami masyarakat. Yang berbahaya bukan hanya angka tekanan darah yang tinggi, tetapi angka tinggi yang disertai tanda kerusakan organ.

8. Jangan Keliru: Bisa Mirip Stroke atau Penyakit Lain

Penurunan kesadaran pada pasien hipertensi tidak selalu berarti ensefalopati hipertensif. Seorang pasien dengan tekanan darah tinggi dan kesadaran menurun juga dapat mengalami penyakit lain yang sama-sama serius. Beberapa kemungkinan yang harus dipikirkan oleh tenaga kesehatan antara lain:

  • stroke perdarahan;

  • stroke iskemik luas;

  • perdarahan subaraknoid;

  • kejang atau status epileptikus;

  • hipoglikemia atau hiperglikemia berat;

  • gangguan ginjal berat atau uremia;

  • infeksi sistem saraf pusat;

  • keracunan obat atau zat;

  • trauma kepala;

  • posterior reversible encephalopathy syndrome atau PRES.

PNPK Hipertensi Dewasa 2026 memberikan catatan penting bahwa lesi neurologis fokal jarang terjadi pada ensefalopati hipertensi. Bila terdapat kelemahan satu sisi tubuh, bicara pelo, wajah mencong, gangguan lapang pandang, atau defisit neurologis fokal lain, stroke harus dicurigai sampai terbukti bukan.

PRES juga dapat menjadi salah satu kondisi yang berkaitan dengan tekanan darah tidak terkontrol atau kenaikan tekanan darah cepat. Kondisi ini ditandai dengan kejang, ensefalopati, sakit kepala, dan gangguan penglihatan, serta memerlukan evaluasi klinis dan radiologis.

Karena itu, pemeriksaan oleh tenaga medis sangat penting agar pasien tidak terlambat mendapatkan penanganan yang sesuai, terutama bila ternyata penyebabnya adalah stroke.

9. Apa yang Dilakukan di Rumah Sakit?

Di rumah sakit, penanganan pasien dengan tekanan darah tinggi dan kesadaran menurun tidak hanya berfokus pada menurunkan angka tekanan darah. Tenaga kesehatan harus mencari penyebab, menilai organ yang terdampak, dan memastikan apakah pasien mengalami stroke, ensefalopati hipertensif, gangguan metabolik, infeksi, atau penyebab lain.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

  • pengukuran tekanan darah berulang dengan teknik yang benar;

  • penilaian tingkat kesadaran;

  • pemeriksaan status neurologis;

  • pemeriksaan gula darah sewaktu;

  • pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin, fungsi ginjal, elektrolit, dan urinalisis;

  • EKG bila dicurigai keterlibatan jantung;

  • evaluasi mata atau funduskopi bila tersedia;

  • CT-scan atau MRI otak bila dicurigai stroke, perdarahan otak, PRES, atau penyebab neurologis lain;

  • pemeriksaan tambahan sesuai kondisi klinis pasien.

PNPK Hipertensi Dewasa 2026 menyebut bahwa pemeriksaan pada hipertensi emergensi dapat mencakup funduskopi, EKG 12-lead, pemeriksaan kimia darah, urinalisis, pemeriksaan fungsi ginjal, tes kehamilan pada wanita usia reproduktif, serta pemeriksaan tambahan sesuai indikasi seperti troponin, foto dada, ekokardiografi, CT/MRI otak, USG ginjal, atau pemeriksaan penapisan obat urin.

Dengan kata lain, pasien seperti ini memerlukan evaluasi menyeluruh. Tekanan darah adalah pintu masuk, tetapi keselamatan pasien ditentukan oleh kemampuan tenaga kesehatan menemukan organ yang sedang terancam.

10. Prinsip Penanganan: Cepat, Tetapi Tidak Sembarangan

Dalam keadaan hipertensi emergensi, tekanan darah memang harus diturunkan. Namun, penurunannya tidak boleh dilakukan sembarangan. Menurunkan tekanan darah terlalu cepat tanpa pemantauan dapat mengganggu aliran darah ke otak, jantung, atau ginjal, terutama pada pasien yang sudah lama hidup dengan hipertensi.

Karena itu, prinsip penanganan adalah cepat, terukur, dan diawasi ketat. PNPK Hipertensi Dewasa 2026 menyebut bahwa strategi tata laksana hipertensi emergensi perlu memastikan organ target yang terlibat, menentukan waktu dan besarnya penurunan tekanan darah yang aman, serta memilih jenis terapi yang tepat. Obat intravena dengan waktu paruh pendek merupakan pilihan ideal untuk titrasi tekanan darah secara hati-hati di fasilitas kesehatan yang mampu melakukan pemantauan hemodinamik kontinu.

Untuk ensefalopati hipertensi, PNPK mencantumkan target penurunan mean arterial pressure atau MAP sekitar 20–25% pada fase awal penanganan. Jadi, dokter di rumah sakit akan menurunkan tekanan darah secara bertahap dan terukur menggunakan obat infus, bukan diturunkan secara drastis dalam sekejap. Namun, detail obat, dosis, dan penyesuaian terapi harus menjadi kewenangan tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pesan penting bagi masyarakat adalah: jangan mencoba menurunkan tekanan darah secara agresif di rumah, apalagi bila pasien sudah mengantuk berat, bingung, kejang, atau kesadaran menurun. Pada kondisi seperti ini, keselamatan pasien jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka tekanan darah yang tampak “normal”.

11. Faktor Risiko dan Pemicu

Ensefalopati hipertensif lebih mungkin terjadi pada pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol, terutama bila tekanan darah meningkat berat atau mendadak. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:

  • tidak mengetahui bahwa dirinya hipertensi;

  • jarang memeriksa tekanan darah;

  • tidak minum obat hipertensi secara teratur;

  • menghentikan obat sendiri karena merasa sudah sehat;

  • konsumsi garam berlebihan;

  • merokok;

  • obesitas;

  • diabetes melitus;

  • kolesterol tinggi;

  • penyakit ginjal;

  • riwayat stroke atau penyakit jantung;

  • kehamilan dengan preeklamsia atau eklampsia;

  • penggunaan obat atau zat tertentu yang dapat menaikkan tekanan darah;

  • stres berat dan kurang tidur.

PNPK Hipertensi Dewasa 2026 menekankan pentingnya menggali faktor risiko seperti riwayat merokok, pola diet dan konsumsi garam, kurang aktivitas fisik, peningkatan berat badan, diabetes, dislipidemia, riwayat stroke, penyakit ginjal, serta gejala kerusakan organ akibat hipertensi.

Pada sebagian pasien, hipertensi juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, misalnya penyakit ginjal, gangguan hormonal, sleep apnea, atau penggunaan obat tertentu. Karena itu, pasien dengan tekanan darah yang sulit terkontrol perlu evaluasi lebih lanjut oleh tenaga medis.

12. Pencegahan: Jangan Tunggu Kesadaran Menurun

Ensefalopati hipertensif adalah kondisi gawat. Tetapi kabar baiknya, banyak kasus hipertensi berat dapat dicegah dengan pengendalian tekanan darah yang baik. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:

  • periksa tekanan darah secara berkala;

  • minum obat sesuai anjuran dokter;

  • jangan menghentikan obat tanpa konsultasi;

  • kurangi garam dan makanan tinggi natrium;

  • perbanyak sayur, buah, dan pola makan seimbang;

  • lakukan aktivitas fisik teratur sesuai kemampuan;

  • kendalikan berat badan;

  • berhenti merokok;

  • kendalikan diabetes dan kolesterol;

  • tidur cukup;

  • kelola stres;

  • kontrol rutin ke fasilitas kesehatan.

PNPK Hipertensi Dewasa 2026 merekomendasikan pola hidup sehat untuk mencegah atau memperlambat hipertensi dan menurunkan risiko kardiovaskular. Upaya tersebut mencakup pembatasan konsumsi garam, peningkatan konsumsi sayur dan buah, penurunan serta pemeliharaan berat badan ideal, aktivitas fisik teratur, serta menghindari rokok. PNPK juga menyebut rekomendasi konsumsi natrium tidak lebih dari 2 gram per hari, setara sekitar 5–6 gram NaCl per hari atau sekitar satu sendok teh garam dapur.

Untuk aktivitas fisik, olahraga aerobik teratur bermanfaat dalam pencegahan dan pengobatan hipertensi. PNPK menyebut olahraga aerobik yang optimal untuk hipertensi dilakukan dengan frekuensi 5–7 kali per minggu, intensitas sedang, dan durasi 30–60 menit, dengan penyesuaian terhadap kondisi klinis masing-masing pasien.

13. Peran Keluarga

Dalam banyak keadaan, keluarga adalah penolong pertama. Ketika seseorang mengalami tekanan darah tinggi disertai bingung, kejang, atau kesadaran menurun, keluarga perlu bertindak cepat dan tepat.

Yang dapat dilakukan keluarga:

  • baringkan pasien di tempat aman;

  • longgarkan pakaian yang ketat;

  • jangan panik, tetapi segera cari pertolongan;

  • ukur tekanan darah bila alat tersedia;

  • catat waktu mulai keluhan;

  • bawa obat rutin pasien ke IGD;

  • sampaikan riwayat penyakit pasien kepada petugas kesehatan;

  • segera bawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat.

Yang sebaiknya tidak dilakukan:

  • jangan memaksa pasien minum obat bila kesadaran menurun;

  • jangan memberi makan atau minum pada pasien yang mengantuk berat atau tidak sadar;

  • jangan memasukkan benda ke mulut pasien saat kejang;

  • jangan menunggu keluhan membaik sendiri bila ada tanda bahaya;

  • jangan memberikan obat tambahan tanpa arahan tenaga medis.

Keluarga tidak harus menjadi dokter di rumah. Tetapi keluarga perlu menjadi mata yang waspada, telinga yang peka, dan tangan yang cepat mengambil keputusan ketika tanda bahaya muncul.

14. Pesan untuk Masyarakat Maluku

Di wilayah kepulauan seperti Maluku, kewaspadaan terhadap hipertensi memiliki makna yang sangat penting. Jarak, cuaca, transportasi laut, dan akses rujukan dapat memengaruhi kecepatan pasien tiba di fasilitas pelayanan kesehatan. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini tidak boleh dianggap sederhana.

Memeriksa tekanan darah di puskesmas, klinik, posyandu lansia, praktik dokter, atau rumah sakit adalah langkah kecil yang dapat mencegah bencana besar. Mengingatkan orang tua untuk minum obat teratur adalah tindakan sederhana yang dapat melindungi otak dari stroke dan kegawatdaruratan hipertensi. Membawa pasien segera ke IGD saat kesadaran menurun dapat menjadi keputusan yang menyelamatkan nyawa.

Di tanah kepulauan, keselamatan sering dimulai dari kecepatan mengenali tanda bahaya. Semakin jauh jarak rujukan, semakin penting edukasi keluarga dan masyarakat.

15. Penutup: Kendalikan Tekanan, Lindungi Kesadaran

Hipertensi bukan sekadar angka. Di balik angka tekanan darah ada denyut kehidupan, kejernihan pikiran, kemampuan bicara, gerak tubuh, ingatan, dan masa depan seseorang.

Ensefalopati hipertensif mengingatkan kita bahwa tekanan darah tinggi dapat mengganggu otak. Ketika hipertensi sudah disertai bingung, kejang, gangguan penglihatan, atau penurunan kesadaran, jangan lagi menganggapnya sebagai pusing biasa. Segera cari pertolongan medis.

Mengendalikan hipertensi bukan hanya tugas dokter. Ia adalah kerja bersama antara pasien, keluarga, tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat. Obat yang diminum teratur, tekanan darah yang dipantau, garam yang dibatasi, rokok yang ditinggalkan, dan kontrol yang dijalani dengan disiplin — semuanya adalah bentuk kecil dari perjuangan besar menjaga kehidupan.

“Jangan menunggu kesadaran menurun untuk mulai peduli pada tekanan darah. Pencegahan selalu lebih ringan daripada penyesalan.”

Pada akhirnya, tekanan darah yang terkendali bukan hanya membuat angka di tensimeter menjadi lebih baik. Ia menjaga otak tetap jernih, langkah tetap tegak, keluarga tetap utuh, dan harapan tetap menyala.

16. Pesan Kunci untuk Pembaca

Segera ke IGD bila tekanan darah tinggi disertai bingung, mengantuk berat, kejang, sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, kelemahan anggota gerak, bicara pelo, nyeri dada, sesak napas, atau penurunan kesadaran.

Jangan menghentikan obat hipertensi tanpa konsultasi dokter.

Periksa tekanan darah secara rutin, bahkan saat tidak ada keluhan.

Hipertensi yang dikendalikan hari ini dapat mencegah stroke dan kegawatdaruratan otak esok hari.

 

Daftar Rujukan

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/303/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Hipertensi Dewasa. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2026.

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/304/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Stroke. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2026.

  • Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi. Jakarta: InaSH; 2021.

  • European Society of Cardiology. 2024 ESC Guidelines for the Management of Elevated Blood Pressure and Hypertension. European Heart Journal; 2024.

  • Mancia G, Kreutz R, Brunström M, et al. 2023 ESH Guidelines for the Management of Arterial Hypertension. Journal of Hypertension; 2023.

  • World Health Organization. Guideline for the Pharmacological Treatment of Hypertension in Adults. Geneva: WHO; 2021.

  • Unger T, Borghi C, Charchar F, et al. 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. Hypertension; 2020.

  • Potter T, Agarwal A, Schaefer TJ. Hypertensive Encephalopathy. StatPearls. Treasure Island: StatPearls Publishing; updated 2024.

  • Zelaya JE, Al-Khoury L. Posterior Reversible Encephalopathy Syndrome. StatPearls. Treasure Island: StatPearls Publishing; updated 2024.

* Penulis adalah dokter spesialis neurologi/saraf di RSUD dr. M. Haulussy Ambon.

 

Link terkait:

Penyakit Stroke: Memahami, Mencegah, dan Mengatasi

Amlodipin dalam Terapi Hipertensi dan Stroke

Candesartan: Kendalikan Hipertensi, Turunkan Risiko Stroke

Captopril: Obat Lama, Peran yang Tetap Penting

 

 

 

 

All rights Reserved © RSUD dr. M. Haulussy Ambon, 2024

Made with   by  RSUD dr. M. Haulussy Ambon