hero-header

RSUD dr. M. Haulussy Ambon

ICCU: Saat Jantung Perlu Diawasi Ketat

 

Ketika seseorang yang kita kasihi harus dirawat di ruang ICCU, suasana dapat berubah dalam hitungan menit. Kabel monitor mulai terpasang, tekanan darah diperiksa berulang, obat diberikan melalui infus, bunyi alarm sesekali terdengar, sementara dokter dan perawat terus mengamati perubahan kondisi pasien.

Bagi keluarga, keadaan seperti ini tentu dapat menimbulkan kecemasan. Berbagai pertanyaan pun muncul: Mengapa harus dirawat di ICCU? Apakah kondisinya sangat berat? Apa sebenarnya yang dilakukan di ruangan ini? Mengapa pasien harus terus dipantau?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat wajar.

Di Maluku, kisah menuju ruang perawatan intensif kadang juga memiliki perjalanan yang lebih panjang. Sebagai wilayah kepulauan, sebagian pasien mungkin datang setelah melalui perjalanan dari kabupaten, pulau, atau fasilitas kesehatan sebelumnya. Ketika menghadapi kegawatan jantung, jarak dan waktu menjadi bagian penting dalam perjalanan memperoleh pelayanan yang dibutuhkan.

Karena itu, mengenal ICCU bukan hanya berarti mengetahui nama sebuah ruangan. Kita perlu memahami siapa yang dirawat di dalamnya, apa yang dipantau, bagaimana pelayanan diberikan, dan mengapa setiap perubahan kecil pada pasien dapat menjadi begitu berarti.

1. Mengenal ICCU

ICCU merupakan singkatan yang secara tradisional dikenal sebagai Intensive Coronary Care Unit, yaitu unit pelayanan intensif yang memberikan perawatan kepada pasien dengan gangguan jantung dan kardiovaskular yang membutuhkan pengawasan serta penanganan lebih ketat.

Dalam perkembangan pelayanan kardiovaskular modern, istilah Cardiac Intensive Care Unit (CICU) juga semakin banyak digunakan. Perubahan istilah ini menggambarkan bahwa pasien yang membutuhkan perawatan intensif jantung kini tidak terbatas pada penyakit jantung koroner atau serangan jantung, tetapi dapat mencakup berbagai kondisi kardiovaskular kritis yang kompleks.

Dengan bahasa yang lebih sederhana, ICCU adalah ruang tempat pasien dengan masalah jantung tertentu dirawat ketika kondisinya membutuhkan pemantauan lebih dekat, respons lebih cepat, dan tingkat pelayanan lebih intensif dibandingkan ruang rawat biasa.

ICCU bukan sekadar ruangan yang dipenuhi monitor dan peralatan medis. Di dalamnya terdapat suatu sistem pelayanan yang menggabungkan observasi klinis, teknologi, terapi, kompetensi tenaga kesehatan, komunikasi, dan kerja tim.

2. Siapa yang Memerlukan ICCU?

Tidak semua pasien yang memiliki penyakit jantung harus dirawat di ICCU.

Kebutuhan perawatan intensif ditentukan berdasarkan keadaan klinis pasien, tingkat kestabilan, kebutuhan terapi dan monitoring, risiko terjadinya perburukan dalam waktu dekat, serta kemampuan pelayanan yang tersedia di rumah sakit.

Beberapa kondisi yang dapat membutuhkan perawatan ICCU antara lain:

  • sindrom koroner akut atau serangan jantung dengan kondisi atau risiko tertentu;

  • gangguan irama jantung yang berat atau tidak stabil;

  • gagal jantung akut dengan kondisi klinis berat;

  • syok kardiogenik;

  • kondisi setelah henti jantung pada pasien tertentu;

  • gangguan kardiovaskular yang disertai ketidakstabilan tekanan darah atau sirkulasi;

  • kondisi tertentu setelah tindakan kardiovaskular yang masih membutuhkan pengawasan intensif; serta

  • kondisi kardiovaskular lain yang berisiko mengalami perburukan cepat.

Artinya, nama penyakit saja tidak menentukan seseorang harus masuk ICCU. Dua pasien dengan diagnosis yang sama dapat membutuhkan tingkat perawatan yang berbeda karena kondisi klinis, faktor risiko, dan kebutuhan terapinya tidak selalu sama.

Dalam kondisi akut, penilaian yang cepat menjadi sangat penting. Hal ini semakin relevan di wilayah kepulauan seperti Maluku, tempat perjalanan rujukan dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas berikutnya dapat melibatkan jarak dan waktu yang tidak sedikit.

3. Mengapa Pasien Dipantau Ketat?

Jantung bekerja tanpa berhenti untuk mempertahankan aliran darah ke seluruh tubuh. Ketika fungsi jantung atau sirkulasi terganggu secara serius, kondisi pasien dapat berubah dalam waktu relatif cepat.

Karena itulah pada pasien tertentu, penilaian beberapa kali sehari saja tidak cukup.

Di ICCU, beberapa parameter dapat dipantau secara terus-menerus atau dinilai lebih sering sesuai kondisi pasien.

Irama dan denyut jantung. Monitor membantu tenaga kesehatan melihat denyut serta perubahan irama jantung. Gangguan irama tertentu dapat membutuhkan evaluasi dan penanganan segera.

Tekanan darah. Perubahan tekanan darah dapat memberikan informasi penting mengenai keadaan sirkulasi dan respons pasien terhadap penyakit maupun terapi.

Saturasi oksigen dan pernapasan. Jantung dan paru bekerja dalam hubungan yang sangat erat. Gangguan jantung yang berat dapat disertai sesak atau gangguan oksigenasi sehingga kondisi pernapasan perlu dipantau.

Kesadaran dan kondisi klinis. Tidak semua perubahan penting terlihat pada monitor. Penurunan kesadaran, gelisah, pucat, kulit dingin, bertambahnya nyeri dada, sesak, atau perubahan perilaku dapat menjadi tanda yang memerlukan perhatian.

Keseimbangan cairan dan fungsi organ. Pada pasien tertentu, jumlah cairan yang masuk dan keluar, produksi urine, pemeriksaan laboratorium, serta parameter lain juga perlu dinilai karena gangguan sirkulasi dapat memengaruhi berbagai organ.

Dengan demikian, pemantauan di ICCU bukan sekadar melihat angka pada layar.

Monitor memberikan data. Tetapi tenaga kesehatanlah yang harus menghubungkan data tersebut dengan keadaan pasien secara keseluruhan.

4. Teknologi yang Membantu Pengawasan

Ketika keluarga memasuki ICCU, banyaknya kabel dan peralatan dapat terlihat menakutkan. Padahal setiap alat memiliki fungsi tertentu untuk membantu pelayanan pasien.

Monitor digunakan untuk mengamati berbagai parameter fisiologis. Elektrokardiografi atau EKG membantu merekam aktivitas listrik jantung. Infusion pump atau syringe pump memungkinkan obat dan cairan tertentu diberikan dengan kecepatan yang terkontrol. Oksigen dan perangkat pendukung pernapasan digunakan bila pasien membutuhkannya. Defibrilator disiapkan untuk menangani kondisi gangguan irama tertentu yang memerlukan intervensi segera.

Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat membutuhkan terapi dan monitoring yang lebih kompleks sesuai indikasi klinis serta kemampuan fasilitas rumah sakit.

Namun teknologi tetaplah alat bantu.

Monitor tidak dapat menggantikan pemeriksaan langsung terhadap pasien. Alarm tidak dapat menggantikan penilaian klinis. Peralatan canggih pun tidak akan bermakna tanpa tenaga kesehatan yang mampu membaca perubahan, menentukan prioritas, dan merespons secara tepat.

5. Pelayanan dalam Ruang ICCU

Pelayanan ICCU berlangsung selama 24 jam karena kondisi pasien intensif dapat berubah kapan saja.

Pada unit ICCU yang menjadi konteks tulisan ini, tersedia lima ruang perawatan pasien dan satu ruang perawatan isolasi, sehingga secara keseluruhan terdapat enam ruang perawatan.

Keberadaan ruang isolasi memberikan kemampuan untuk memisahkan pasien tertentu ketika secara klinis maupun berdasarkan pertimbangan pencegahan dan pengendalian infeksi diperlukan perawatan tersendiri.

Namun kapasitas ruangan hanyalah satu bagian dari sebuah pelayanan intensif.

Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap ruang tersebut didukung oleh sistem monitoring, kesiapan tenaga kesehatan, ketersediaan peralatan, obat-obatan, komunikasi antarprofesi, serta kemampuan memberikan respons ketika kondisi pasien mengalami perubahan.

Setiap pasien datang dengan kebutuhan yang berbeda. Ada pasien yang memerlukan pengawasan terutama terhadap irama jantung. Ada yang membutuhkan terapi untuk menjaga tekanan darah dan sirkulasi. Ada pula yang mengalami gangguan beberapa organ sekaligus.

Karena itu, pelayanan ICCU selalu berangkat dari satu prinsip: perawatan disesuaikan dengan kebutuhan klinis masing-masing pasien.

6. Perawat di Garis Terdekat

Di tengah seluruh teknologi tersebut, perawat merupakan tenaga kesehatan yang berada sangat dekat dengan pasien sepanjang proses perawatan.

Peran perawat ICCU jauh lebih luas daripada sekadar memberikan obat atau mengukur tekanan darah.

Perawat melakukan pengkajian, observasi, pemantauan, intervensi keperawatan, pelaksanaan terapi sesuai program, dokumentasi, komunikasi, edukasi, serta koordinasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Dalam praktik sehari-hari, perawat ICCU antara lain:

  • memantau tanda vital dan perubahan kondisi pasien;

  • mengamati irama jantung melalui monitor;

  • menilai keluhan seperti nyeri dada, sesak, berdebar, kelemahan, atau perubahan kesadaran;

  • memberikan obat dan terapi sesuai program serta kewenangan;

  • menilai respons pasien setelah terapi diberikan;

  • mengawasi infus dan berbagai perangkat medis;

  • melakukan tindakan keperawatan sesuai kebutuhan pasien;

  • mengenali tanda perburukan dan segera mengomunikasikannya kepada dokter;

  • mendokumentasikan perkembangan pasien;

  • menjaga keselamatan, kenyamanan, dan kebutuhan dasar pasien; serta

  • memberikan informasi dan edukasi kepada pasien maupun keluarga.

Inilah sebabnya kemampuan observasi seorang perawat sangat penting dalam pelayanan intensif.

Perawat tidak hanya melihat layar monitor. Ia juga melihat warna kulit pasien, pola napas, ekspresi wajah, tingkat kesadaran, keluhan yang disampaikan, respons terhadap obat, hingga perubahan-perubahan kecil yang mungkin tidak langsung terbaca oleh sebuah mesin.

“Di ruang intensif, perubahan yang tampak kecil dapat membawa arti klinis yang besar. Ketelitian bukan sekadar cara bekerja; ia adalah bagian dari keselamatan pasien.”

7. Ketika Alarm Monitor Berbunyi

Bunyi alarm merupakan salah satu hal yang paling sering membuat keluarga pasien merasa cemas.

Ketika monitor berbunyi, keluarga mungkin langsung berpikir bahwa pasien sedang mengalami kondisi berbahaya. Padahal, alarm tidak selalu berarti terjadi kegawatan.

Alarm dapat muncul ketika suatu parameter melewati batas yang telah ditentukan, tetapi juga dapat berbunyi ketika pasien bergerak, sensor bergeser atau terlepas, manset tekanan darah sedang bekerja, atau terdapat kondisi teknis lainnya.

Meskipun demikian, setiap alarm tetap perlu dinilai oleh petugas.

Karena itu, keluarga sebaiknya tidak mematikan alarm, mengubah pengaturan monitor, melepas sensor, mengatur pompa infus, atau memindahkan peralatan medis sendiri.

Bila ada sesuatu yang membuat khawatir, panggillah perawat.

Hal yang paling penting bukan hanya apakah monitor berbunyi, tetapi apa yang sedang terjadi pada pasien ketika bunyi itu muncul.

8. ICCU Adalah Kerja Tim

Pelayanan pasien jantung kritis tidak dapat berjalan hanya oleh satu profesi.

Dokter dan perawat menjadi bagian penting dari tim, tetapi kebutuhan pasien dapat melibatkan pula tenaga farmasi, laboratorium, radiologi, gizi, rehabilitasi medik, dan profesi kesehatan lainnya sesuai kondisi klinis.

Setiap unsur memiliki fungsi yang saling berkaitan.

Ketika kondisi pasien berubah, informasi perlu disampaikan dengan cepat dan tepat. Hasil EKG atau pemeriksaan laboratorium dapat memengaruhi keputusan terapi. Obat harus tersedia dan diberikan secara benar. Bila diperlukan tindakan atau pemeriksaan lanjutan, koordinasi antarunit juga harus berjalan.

Dalam sistem seperti inilah komunikasi menjadi sangat penting.

Pelayanan ICCU dapat diibaratkan sebuah orkestra. Masing-masing profesi memainkan bagian yang berbeda, tetapi semuanya bekerja menuju tujuan yang sama: keselamatan pasien dan kesempatan terbaik untuk pulih.

9. Keluarga Juga Bagian Pelayanan

Keluarga sering merasa tidak dapat melakukan apa-apa ketika pasien berada di ICCU. Padahal, mereka tetap memiliki peran penting.

Keluarga dapat membantu dengan memberikan informasi yang benar mengenai riwayat penyakit, obat yang biasa dikonsumsi, alergi, maupun perawatan sebelumnya. Bila memungkinkan, satu anggota keluarga dapat ditunjuk sebagai kontak utama agar komunikasi dengan tim kesehatan lebih teratur.

Keluarga juga perlu mengikuti aturan kunjungan dan tidak menyentuh atau mengubah peralatan medis tanpa petunjuk petugas.

Pembatasan kunjungan di ruang intensif bukan dimaksudkan untuk memisahkan pasien dari orang yang dicintainya. Pengaturan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan istirahat pasien, tindakan medis dan keperawatan, privasi, keselamatan, serta pencegahan dan pengendalian infeksi.

Yang juga tidak kalah penting adalah bertanya ketika ada sesuatu yang belum dipahami.

Istilah medis terkadang sulit dimengerti. Keluarga tidak perlu merasa sungkan meminta penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Dan ketika kondisi memungkinkan, kehadiran keluarga, suara yang menenangkan, doa, serta kata-kata yang memberi semangat dapat menjadi dukungan emosional yang sangat berarti bagi pasien.

10. Dari ICCU Menuju Pemulihan

Pasien tidak selalu berada di ICCU sampai diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Ketika kondisi sudah lebih stabil, kebutuhan monitoring intensif berkurang, terapi kritis tidak lagi diperlukan, dan pasien dinilai dapat dirawat pada tingkat pelayanan berikutnya, tim kesehatan dapat mempertimbangkan pemindahan ke ruang lain.

Karena itu, keluar dari ICCU tidak berarti seluruh pengobatan telah selesai.

Perpindahan tersebut merupakan bagian dari perjalanan pelayanan: dari fase kritis menuju fase stabilisasi dan pemulihan.

Setelah fase akut terlewati, pasien mungkin masih membutuhkan pengobatan, pengaturan aktivitas, perbaikan pola makan, berhenti merokok, pengendalian tekanan darah, gula darah dan kolesterol, rehabilitasi sesuai indikasi, serta kontrol secara teratur.

Pada penyakit jantung, keberhasilan pelayanan tidak berhenti ketika monitor dilepas.

Pemulihan berlanjut ketika pasien dan keluarga memahami bagaimana menjaga kesehatan setelah meninggalkan rumah sakit.

Menjaga Jantung, Menjaga Manusia

Teknologi pelayanan jantung terus berkembang. Monitor semakin baik, pemeriksaan semakin cepat, obat semakin beragam, dan kemampuan tenaga kesehatan terus bertambah.

Namun secanggih apa pun teknologi yang digunakan, pusat pelayanan kesehatan tetaplah manusia.

Pasien yang berbaring di ICCU bukan sekadar sebuah diagnosis, angka tekanan darah, grafik elektrokardiogram, atau nomor ruang perawatan.

Ia mungkin seorang ayah yang ingin kembali kepada anak-anaknya. Seorang ibu yang masih dinantikan di rumah. Seorang pegawai yang ingin kembali bekerja. Seorang nelayan yang berharap dapat kembali ke laut. Atau seorang opa dan oma yang masih ingin menyaksikan cucunya bertumbuh.

Di Maluku, tempat pulau-pulau dipisahkan oleh laut tetapi kehidupan masyarakatnya dipersatukan oleh kuatnya ikatan kekeluargaan, sakitnya satu anggota keluarga sering ikut dirasakan oleh banyak orang.

Di ruang ICCU, teknologi membantu kami melihat denyut dan irama jantung. Monitor membantu membaca perubahan. Obat dan berbagai tindakan membantu mempertahankan fungsi tubuh.

Tetapi di balik semuanya, yang kami rawat tetaplah seorang manusia.

Dan barangkali di situlah makna pelayanan intensif yang sebenarnya.

Bukan hanya memiliki lebih banyak alat. Bukan hanya mengawasi pasien lebih sering. Bukan pula sekadar bereaksi ketika alarm berbunyi.

Pelayanan intensif berarti menghadirkan ilmu, keterampilan, kewaspadaan, kerja tim, komunikasi, ketelitian, dan kepedulian pada saat kehidupan seseorang berada dalam keadaan yang paling rapuh.

“Teknologi membantu kami membaca denyut jantung, tetapi kepedulian membuat kami tetap melihat manusia di balik setiap denyut itu.”

Ketika jantung membutuhkan pengawasan yang lebih ketat, manusia di balik setiap denyut itu tetap membutuhkan sesuatu yang tidak boleh hilang dari sebuah rumah sakit: pelayanan yang memberi rasa aman, menjaga martabat, dan memelihara harapan.

 

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Mengenal Lebih Dekat Ruang Perawatan Khusus ICU, Apa Saja Jenis-Jenisnya? 2022.

  2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit.

  3. van Diepen S, Rampersad P, Luk A, et al. Cardiac Intensive Care Unit Appropriate Patient Selection and Triage: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2026.

  4. Byrne RA, Rossello X, Coughlan JJ, et al. 2023 ESC Guidelines for the Management of Acute Coronary Syndromes. European Heart Journal.

  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Mutu Tenaga Kesehatan. Kurikulum Pelatihan Pelayanan Keperawatan Intensif ICU.

 

*Penulis adalah Kepala Ruangan ICCU RSUD dr. M. Haulussy.

 

All rights Reserved © RSUD dr. M. Haulussy Ambon, 2024

Made with   by  RSUD dr. M. Haulussy Ambon